Competitions
Pengunduran diri Gabriele Gravina sebagai Presiden FIGC memicu berbagai reaksi di dunia sepak bola. Salah satu yang paling menonjol datang dari Presiden UEFA, Aleksander Ceferin yang secara tegas memberikan dukungan kepada Gravina. Ceferin menilai kegagalan Italia lolos ke Piala Dunia tiga kali berturut-turut bukan sepenuhnya kesalahan federasi. Italia kembali gagal tampil di Piala Dunia setelah kalah dari Bosnia dan Herzegovina melalui adu penalti di laga final play-off. Kekalahan ini menandai ketiga kalinya Gli Azzurri tersingkir di babak play-off secara beruntun, setelah sebelumnya juga gagal di edisi 2018 dan 2022. Ceferin menekankan bahwa situasi seperti ini biasa terjadi dalam sepak bola.
Ceferin menegaskan Gravina tak pantas disalahkan atas kegagalan timnas, menyebut kritik seharusnya fokus pada sistem dan infrastruktur sepak bola Italia, bukan individu, karena masalah lebih terkait politik dan struktur, bukan pemain.
Presiden UEFA Ceferin mengkritik politisi Italia yang lebih mementingkan kepentingan pribadi, sementara Gravina tetap profesional, tulus mencintai sepak bola Italia, berbeda dengan pihak yang hanya menunggu kegagalan untuk melontarkan kritik.
Ia juga menekankan pentingnya Gravina dalam struktur UEFA. Kehilangan sosok seperti Gravina akan menjadi pukulan besar bagi federasi, mengingat dedikasi dan pengalaman panjangnya dalam mengelola sepak bola, baik di level nasional maupun internasional.
Ceferin menekankan infrastruktur sepak bola Italia tertinggal dibanding Eropa, dan menjelang Euro 2032 bersama Turki, stadion, fasilitas latihan, serta manajemen operasional harus ditingkatkan agar Italia layak jadi tuan rumah.
Menurutnya, infrastruktur yang baik bukan hanya soal stadion, tetapi juga pengembangan pemain muda, akademi, dan sistem pembinaan. Tanpa perbaikan ini, prestasi tim nasional dan reputasi sepak bola Italia akan terus terhambat, meski ada talenta besar yang bermain di luar negeri.
Ceferin menegaskan bahwa dukungan politik dan koordinasi yang jelas antara federasi serta pihak terkait sangat krusial. Tanpa itu, masalah klasik seperti pengelolaan dan pengembangan pemain muda sulit diatasi.
Ia menutup dengan harapan bahwa sepak bola Italia akan pulih. Menurutnya, meski tantangan besar masih menanti, dengan manajemen tepat dan dukungan yang solid, Italia bisa kembali menjadi kekuatan utama di pentas dunia. Simak terus berita sepak bola lainnya secara lengkap hanya di ShotsGoal!