Competitions
Sir Alex Ferguson dikenal sebagai pelatih tegas selama 27 tahun membimbing Manchester United. Gaya kepemimpinannya yang disiplin menjadi kunci kesuksesan, termasuk meraih 13 gelar Premier League. Ferguson tak segan mengambil keputusan besar terhadap siapa pun, termasuk pemain bintang. Pemain seperti David Beckham dan Jaap Stam pernah dilepas karena berselisih dengannya. Mantan gelandang Paul Ince juga pernah merasakan kerasnya karakter Ferguson. Pengalaman panas itu terjadi setelah kemenangan 3-1 atas Norwich City pada musim 1992/1993, saat Ferguson meledak karena Ince kehilangan bola beberapa menit sebelum laga selesai.
Meski tim meraih kemenangan, Ferguson langsung meluapkan amarahnya kepada Ince di ruang ganti. âApa yang kamu lakukan, Incey? Kamu bukan Diego Maradona. Ambil bola dan berikan kepada pemain terbaik!â teriak Ferguson.
Ince mengaku memahami standar tinggi Ferguson, tetapi karakternya saat itu membuatnya menentang. Keduanya terlibat adu teriak, bahkan nyaris kontak fisik yang harus ditahan beberapa rekan setim.
Setelah insiden itu, hubungan keduanya tegang. Mereka tidak saling berbicara selama dua hari, naik bus dengan keheningan yang membeku. Ince pun mengakui bahwa menentang pelatih bukanlah tindakan yang benar.
Ince membela MU selama enam tahun, tetapi pada 1995 ia pindah ke Inter Milan. Ia mengungkap kepindahan itu bukan keinginannya. âSaya tidak memilih pergi. Klub menerima tawaran dari Inter tanpa sepengetahuan saya. Hati saya hancur,â katanya.
Ferguson dalam autobiografinya membenarkan ingin melepas Ince, namun menekankan jika Ince bersikeras bertahan, transfer itu tidak akan terjadi. Ia juga menilai Ince memiliki sifat arogan dan sering menyebut dirinya âThe Guv'norâ.
Kritik Ferguson kepada Ince kerap terdengar di ruang ganti, termasuk saat pengarahan tim. Ferguson memperingatkan pemain lain agar tidak terintimidasi oleh sifat arogan Ince yang dianggap terlalu percaya diri.
Pengalaman ini menunjukkan tekanan tinggi yang dirasakan pemain di bawah kepemimpinan Ferguson, sekaligus menegaskan standar disiplin yang membuat MU sukses. Ince kini menatap kembali masa lalu dengan perspektif berbeda, meski luka emosional dari keputusan klub masih membekas. Simak terus berita sepak bola lainnya secara lengkap hanya di ShotsGoal!