Competitions
Piala Dunia 2026 akan digelar di Amerika Serikat sebagai tuan rumah utama, dengan Kanada dan Meksiko ikut menyelenggarakan beberapa pertandingan. Namun, kelayakan AS sebagai tuan rumah kini menjadi sorotan. Langkah pemerintah AS yang melarang masuk turis dari sejumlah negara, termasuk Haiti, Iran, Pantai Gading, dan Senegal, menimbulkan keraguan terhadap keadilan turnamen ini.
Selain itu, rencana kontroversial AS untuk mencaplok Greenland yang dikuasai Denmark membuat sejumlah tokoh Eropa menentang. Kondisi keamanan dalam negeri juga menjadi perhatian, mengingat meningkatnya ketegangan antara pemerintah dan pendatang. Banyak pengamat menilai situasi ini dapat mengganggu kenyamanan dan keamanan para penonton yang datang.
Badan Imigrasi dan Bea Cukai AS diketahui telah bertindak tegas dalam menangani imigran dan demonstran. Dari 2025 hingga Januari 2026, tercatat 28 penembakan dengan delapan korban jiwa, termasuk insiden di Minneapolis bulan ini. Fakta ini menambah kekhawatiran soal keselamatan penggemar sepak bola yang ingin menyaksikan langsung turnamen.
Eks Presiden FIFA, Sepp Blatter, menyatakan dukungannya terhadap fan yang mempertimbangkan boikot Piala Dunia 2026. Ia merujuk pada pernyataan Mark Pieth, pengacara Swiss, yang menyarankan penggemar untuk menonton turnamen dari televisi saja. Pieth menekankan bahwa kondisi keamanan dan sikap aparat terhadap turis bisa membuat pengalaman menonton di lapangan menjadi berisiko.
Menurut Pieth, para penggemar yang tetap datang harus siap menghadapi risiko dipulangkan lebih cepat jika dianggap mengganggu petugas. Blatter menegaskan bahwa kekhawatiran tersebut masuk akal dan pantas dipertimbangkan sebelum memutuskan datang langsung ke AS. Dukungan Blatter menambah tekanan terhadap penyelenggara untuk memastikan keamanan dan kenyamanan penonton.
Situasi ini menunjukkan bahwa sepak bola tidak bisa dipisahkan dari isu sosial-politik. Pendapat dari tokoh internasional seperti Blatter dan Pieth menjadi alarm bagi para penggemar yang merencanakan perjalanan jauh hanya untuk menonton Piala Dunia.
Selain masalah keamanan, Piala Dunia 2026 juga menuai kritik karena harga tiket yang sangat mahal. Sistem harga dinamis diterapkan, di mana harga tiket dapat meningkat drastis jika permintaan tinggi. Contohnya, harga tiket final kategori 1 saat ini sudah mencapai 145,8 juta Rupiah, membuat banyak penggemar kesulitan membeli tiket.
Presiden FIFA, Gianni Infantino, beralasan harga tinggi disebabkan praktik penjualan kembali tiket oleh para fan untuk mendapatkan keuntungan. Menurutnya, para penggemar tetap bisa merayakan sepak bola bersama meski harga tiket tinggi.
Namun, kritik tetap muncul karena jarang ada transparansi soal penentuan harga dan pengaruhnya terhadap akses fan. Kondisi ini menambah kontroversi Piala Dunia 2026, dari isu keamanan hingga ekonomi, yang membuat banyak pihak mempertimbangkan untuk menyaksikannya dari rumah. Jika ingin melihat lebih banyak pembahasan terupdate dari Piala Dunia 2026, ikuti berita lengkapnya dengan ShotsGoal!