Competitions
Situasi Real Madrid tengah berada dalam tekanan besar. Dalam kurun waktu sepekan, Los Blancos dipastikan gagal meraih dua trofi sekaligus, yakni Piala Super Spanyol dan Copa del Rey. Rangkaian hasil negatif tersebut memicu kekecewaan mendalam di kalangan suporter yang menilai klub kehilangan arah di tengah musim.
Kekalahan di final Piala Super Spanyol menjadi pukulan awal, sebelum Real Madrid kembali dipermalukan dengan tersingkir di babak 16 besar Copa del Rey. Yang paling menyakitkan, Madrid harus angkat koper usai kalah 2-3 dari Albacete, klub divisi dua Spanyol. Kekalahan ini dianggap tak sebanding dengan status dan kualitas skuad yang dimiliki.
Pertandingan melawan Albacete juga menjadi laga pertama Real Madrid setelah pemecatan Xabi Alonso. Eks pelatih Bayer Leverkusen itu didepak menyusul hasil buruk sebelumnya, namun keputusan tersebut justru memicu perdebatan baru di kalangan penggemar.
Sejumlah laporan menyebutkan bahwa Xabi Alonso sebenarnya tidak sepenuhnya mendapat dukungan dari manajemen. Ia disebut kesulitan mengendalikan ruang ganti yang dihuni pemain-pemain berlabel bintang dengan ego tinggi. Kondisi tersebut membuat Alonso berada dalam posisi sulit sejak awal masa kepemimpinannya.
Alih-alih memberikan perlindungan kepada pelatih, Florentino Perez diklaim lebih memilih berpihak kepada para pemain. Sikap ini dinilai sebagian fans sebagai kesalahan lama yang kembali terulang, di mana pelatih menjadi pihak pertama yang dikorbankan saat hasil tak sesuai harapan.
Kebijakan tersebut memunculkan anggapan bahwa masalah Real Madrid bukan semata soal pelatih, melainkan juga arah kepemimpinan di level tertinggi klub. Kekecewaan inilah yang kemudian meledak menjadi aksi protes terbuka.
Mengutip laporan Mundo Deportivo, sejumlah fans Real Madrid membentangkan banner protes di beberapa titik strategis Kota Madrid. Spanduk berwarna putih itu berisi pesan keras yang secara langsung ditujukan kepada Florentino Perez.
Tulisan seperti "Florentino: Game Over" hingga "Presiden yang sudah habis" mencerminkan akumulasi kekecewaan suporter. Fans juga menyinggung proyek-proyek kontroversial Perez, termasuk gagasan Super League yang menuai penolakan luas dari UEFA dan publik sepak bola Eropa.
Aksi ini menjadi sinyal bahwa sebagian pendukung mulai kehilangan kepercayaan pada Perez, meski ia dikenal sebagai presiden paling sukses dalam sejarah klub. Tekanan dari tribun kini semakin nyata, dan Florentino Perez menghadapi tantangan besar untuk membuktikan bahwa ia masih layak memimpin Real Madrid ke arah yang lebih baik. Simak terus pembahasan sepak bola menarik lainnya hanya di ShotsGoal!