Competitions
Kepergian Mohamed Salah dari Liverpool seharusnya menjadi momen yang mengguncang. Namun yang terasa justru bukan kejutan, melainkan kepahitan yang sudah lama menumpuk.
Sebab masalah terbesar dari perpisahan ini bukan hanya fakta bahwa Salah akhirnya meninggalkan Anfield. Yang jauh lebih menyakitkan adalah kesan bahwa Liverpool justru memilih mengorbankan legenda mereka di tengah musim yang kacau, alih-alih membenahi sumber masalah yang sebenarnya.
Di atas kertas, selalu ada argumen yang bisa dipakai untuk membenarkan keputusan ini. Salah kini berusia 33 tahun, gajinya sangat besar, dan performanya musim ini tidak setajam biasanya. Tetapi apakah itu cukup untuk menjelaskan mengapa pemain sebesar dirinya harus pergi lebih dulu?
Sulit untuk mengatakan iya.
Benar, Mohamed Salah tidak sedang berada di level magis seperti musim lalu. Ia tak lagi terlihat secepat dulu dalam beberapa laga, dan pengaruhnya memang sempat menurun. Namun menyimpulkan bahwa ia sudah habis jelas terlalu berlebihan.
Belum lama ini Salah masih menunjukkan bahwa ia bisa menentukan pertandingan besar. Bahkan ketika performa Liverpool naik-turun, kontribusinya tetap tidak bisa dianggap remeh. Itu sebabnya narasi bahwa kepergiannya murni keputusan teknis terasa terlalu sederhana.
Salah mungkin tidak sedang dalam versi terbaiknya, tetapi ia tetap bukan masalah terbesar Liverpool.
Di sinilah persoalan mulai terasa janggal. Ketika Liverpool memasuki periode buruk, Salah justru menjadi sosok yang paling mudah disorot. Ia dicadangkan, dipertanyakan, lalu perlahan ditempatkan sebagai simbol dari penurunan tim.
Padahal, kegagalan Liverpool musim ini jelas bersifat kolektif.
Banyak pemain tampil di bawah standar. Permainan tim sering kehilangan bentuk. Stabilitas tidak pernah benar-benar terbentuk. Namun dari semua kekacauan itu, justru Salah yang akhirnya pergi.
Sulit untuk tidak melihat ini sebagai bentuk pengorbanan simbolis: klub seperti butuh satu nama besar untuk dilepas, dan nama itu adalah Mohamed Salah.
Pertanyaan yang paling mengganggu justru muncul di sini.
Jika Liverpool memang sedang mengalami kemunduran besar, mengapa yang lebih dulu tersingkir adalah Salah? Mengapa bukan Arne Slot yang gagal memberi solusi meyakinkan? Mengapa bukan Richard Hughes yang dinilai membangun skuad dengan keseimbangan yang meragukan?
Salah memang tidak sempurna. Tetapi ia bukan penyebab utama Liverpool kehilangan kendali.
Ketika sebuah tim terlihat rapuh di banyak area, keputusan melepas pemain paling ikonik justru terasa seperti cara termudah untuk menutupi masalah yang lebih dalam. Dan itulah yang membuat perpisahan ini terasa tidak adil.
Liverpool pernah ditinggalkan banyak legenda dan selalu mampu bangkit. Klub ini memang lebih besar dari siapa pun. Namun kasus Salah terasa berbeda.
Ia bukan sekadar pencetak gol. Ia adalah wajah sebuah era, simbol konsistensi, dan pemain yang selama bertahun-tahun menjaga standar tertinggi di Anfield. Ketika sosok seperti itu dilepas di tengah situasi yang belum jelas, pertanyaan besar akan selalu muncul: apakah klub benar-benar tahu ke mana mereka sedang berjalan?
Karena itulah, kepergian Mohamed Salah tidak hanya terasa seperti akhir dari sebuah era. Ini juga terasa seperti tanda bahwa Liverpool sedang kehilangan arah.
Dan mungkin, itulah hal yang paling menakutkan bagi para penggemarnya. Jangan sampai ketinggalan perkembangan terbaru soal Liverpool dan Mohamed Salah hanya di ShotsGoal.