Competitions
Mohamed Salah bukan sekadar pemain cepat dan tajam di lapangan, tapi juga teladan dalam menjaga tubuhnya. Rekan setim seperti Alexis Mac Allister pun dibuat kagum dan kewalahan mencoba mengikuti ritme latihan Salah. Mac Allister, gelandang muda asal Argentina, mengaku sempat ingin menyaingi porsi latihan otot perut Salah, tapi hasilnya malah membuatnya nyaris cedera. Bukan hanya jumlah latihan yang ekstrem, tapi juga cara Salah melakukannya. Setiap sesi latihan selalu terencana dengan detail, bahkan gerakan yang terlihat sederhana bisa membuat pemain lain kelelahan. âSaya merasa sangat sakit hingga nyaris tidak bisa duduk di tempat tidur,â kenang Mac Allister. Tidak hanya soal fisik, pola istirahat Salah juga unik. Ia jarang tidur lebih dari enam setengah hingga tujuh jam karena merasa tubuhnya lebih fit dengan ritme itu. Hal ini menunjukkan Salah bukan hanya mengikuti standar, tapi menciptakan standar baru yang ekstrem.
Dedikasi Salah terhadap kebugaran tidak berhenti di gym. Hal-hal sederhana pun bisa berubah karena pengaruhnya. Mac Allister mengaku sejak bergabung dengan Liverpool, ia terbiasa memakai celana panjang dan topi saat pemanasan. Namun satu teguran singkat dari Salah membuatnya berhenti.
Saat pemanasan, Mo menegur saya dengan tajam, mempertanyakan pakaian yang saya pakai. Sejak itu, saya tidak lagi memakai celana panjang,â ungkap Mac Allister. Perubahan ini menunjukkan bagaimana disiplin Salah menular ke orang di sekitarnya, bahkan pada hal-hal sepele.
Standar tinggi Mohamed Salah membuat semua rekan setim menyesuaikan diri secara otomatis, menciptakan budaya profesional yang disiplin, fokus, dan konsisten, di mana setiap detail diperhatikan untuk mencapai performa terbaik di lapangan.
Alex Oxlade-Chamberlain, yang bermain bersama Salah selama enam tahun, juga mengakui betapa ekstremnya dedikasi Salah. Menurutnya, hampir seluruh kehidupan pemain asal Mesir ini berpusat pada menjaga kondisi tubuh. Tidak ada waktu untuk bersantai atau kegiatan biasa; fokusnya sepenuhnya pada performa di lapangan.
Setiap hari, dari latihan hingga pemulihan, dilakukan secara intens. Instalasi pemulihan super canggih di rumahnya memungkinkan Salah melakukan pemandian es, krioterapi, hingga terapi cahaya merah tanpa henti. Semua dilakukan untuk menjaga stamina, kecepatan, dan daya ledak di pertandingan.
Ini juga menjadi pelajaran bagi siapa pun menjaga tubuh, disiplin, dan konsistensi adalah kunci kesuksesan. Bahkan hal-hal yang tampak sepele, seperti cara pemanasan atau durasi tidur, bisa berdampak besar pada performa.
Salah meninggalkan Liverpool bukan hanya karena gol dan trofi, tapi juga standar profesional yang mungkin sulit dicapai penggantinya. Dedikasinya membuktikan bahwa kehebatan di lapangan lahir dari kerja keras di luar lapangan. Simak terus berita sepak bola lainnya secara lengkap hanya di ShotsGoal!