Competitions
Juventus kembali mengalami malam yang sulit di Liga Champions. Pada 17 Februari 2026, di Rams Park, Istanbul, tim asal Turin itu takluk 2-5 dari Galatasaray dalam laga yang penuh gol, perubahan momentum, dan drama yang memukul mental.
Kekalahan ini langsung menempatkan Juventus dalam posisi genting jelang leg kedua di Turin. Tim yang dikenal dengan pertahanan kokoh justru kebobolan lima kali dalam satu pertandingan penting sebuah pukulan yang terasa makin berat karena terjadi di atmosfer stadion yang membara, dengan Galatasaray bermain agresif dan percaya diri sejak menit awal.
Galatasaray membuka laga dengan intensitas tinggi, dan hasilnya terlihat cepat. Gabriel Sara membawa tuan rumah unggul pada menit ke-15, memanaskan Rams Park dan menekan Juventus di bawah gelombang serangan awal.
Namun Juventus sempat menunjukkan reaksi tegas. Teun Koopmeiners membalas hanya semenit berselang, sebelum kembali mencetak gol pada menit ke-32. Dua gol cepat itu sempat membalikkan keadaan dan membuat pertandingan terasa seimbang, bahkan memberi Juventus momen untuk mengendalikan ritme.
Sayangnya, ketenangan itu tidak bertahan lama. Tekanan Galatasaray tak pernah benar-benar turun, dan Juventus terus dipaksa bertahan menghadapi alur permainan yang menguras fokus lini belakang.
Begitu babak kedua dimulai, Galatasaray kembali menancapkan ancaman. Noa Lang menyamakan kedudukan pada menit ke-49, gol yang tidak hanya mengubah skor, tetapi juga mengangkat energi tuan rumah dan menggeser psikologi laga.
Setelah itu, Juventus terlihat makin kesulitan meredam gelombang serangan. Galatasaray menekan tanpa henti, memaksa pertahanan Juventus bekerja di bawah tekanan intens yang tak memberi ruang untuk bernapas.
Situasi makin berat ketika Juan Cabal menerima kartu merah pada menit ke-67. Bermain dengan sepuluh orang membuat keseimbangan Juventus runtuh. Galatasaray pun semakin leluasa menyerang, sementara Juventus kehilangan opsi untuk menutup ruang dan menjaga struktur permainan.
Keunggulan jumlah pemain dimanfaatkan Galatasaray dengan efektif. Davinson Sanchez mencetak gol pada menit ke-60, lalu Noa Lang menambah gol keduanya pada menit ke-74. Ketika Juventus kian limbung, Sacha Boey menutup pesta gol pada menit ke-86 melalui serangan cepat yang mematikan.
Meski tidak mencatatkan namanya di papan skor, Victor Osimhen memiliki peran penting dalam dua gol terakhir. Pergerakan dan kontribusinya membuka ruang bagi rekan-rekannya, membongkar pertahanan Juventus lewat determinasi yang membuat lini belakang lawan kehilangan pegangan.
Bagi Juventus, laga ini menorehkan catatan yang menyakitkan: untuk pertama kalinya mereka kebobolan lima gol dalam satu pertandingan Liga Champions. Dalam sejarah panjang klub, kekalahan telak di Eropa sebelumnya hanya pernah terjadi sekali.
Laga di Istanbul ini menjadi pengingat bahwa kejutan selalu mungkin terjadi, terutama ketika momentum berpindah dan detail seperti kartu merah mengubah jalannya pertandingan. Ikuti terus kabar sepak bola terbaru dan lengkap hanya di ShotsGoal.