Competitions
Piala Afrika 2025 tidak hanya menyuguhkan drama di atas lapangan, tetapi juga menghadirkan kisah unik di luar sepak bola. Di Mali, seorang dukun bernama Karamogo Sinayoko menjadi sorotan setelah mengklaim mampu membantu Timnas Mali menjuarai turnamen tersebut melalui ritual dan "kekuatan gaib."
Karamogo menjanjikan kesuksesan besar bagi negaranya dengan syarat mendapat donasi dari masyarakat. Ia mengaku dana tersebut diperlukan untuk melakukan berbagai ritual demi memastikan kemenangan Mali di Piala Afrika. Janji tersebut disambut antusias oleh sebagian warga yang percaya pada praktik perdukunan.
Tak main-main, dari aksi penggalangan dana itu Karamogo disebut berhasil mengumpulkan hingga sekitar Rp657 juta. Jumlah besar ini membuat namanya semakin dikenal, sekaligus menimbulkan kontroversi karena praktik perdukunan sejatinya dilarang oleh hukum di Mali.
Di atas lapangan, performa Timnas Mali memang sempat memberi harapan. Mereka tampil cukup solid di fase grup dengan meraih tiga hasil imbang dan bahkan mampu menahan tuan rumah Maroko dengan skor 1-1. Hasil tersebut membuat kepercayaan masyarakat terhadap Karamogo semakin kuat.
Mali kemudian melaju ke babak gugur dan berhasil menyingkirkan Tunisia lewat drama adu penalti 3-2. Keberhasilan itu semakin menguatkan keyakinan para pendukung bahwa "ramalan" sang dukun benar-benar bekerja dan membawa keberuntungan bagi tim nasional.
Namun cerita indah itu berhenti di perempatfinal. Mali harus mengakui keunggulan Senegal dengan skor tipis 0-1. Kekalahan tersebut langsung memicu kemarahan publik, dan Karamogo pun menjadi sasaran kekecewaan karena janjinya gagal terwujud.
Usai kekalahan tersebut, tekanan terhadap aparat keamanan semakin besar. Polisi akhirnya menangkap Karamogo Sinayoko untuk mencegah amukan massa sekaligus menindak praktik yang melanggar hukum. Penangkapan ini mengakhiri kisah dukun yang sempat dielu-elukan publik.
Menariknya, polisi sebenarnya sudah berniat mengamankan Karamogo sejak awal karena ia meminta sumbangan uang. Namun besarnya dukungan masyarakat membuat aparat memilih menunda demi menghindari konflik sosial yang lebih luas.
Kasus ini menjadi pelajaran penting bagi publik Mali. Sepak bola tetap harus dipahami sebagai olahraga yang ditentukan oleh kerja keras, strategi, dan kualitas pemain, bukan janji magis. Euforia berlebihan dan kepercayaan buta justru dapat berujung masalah, seperti yang dialami Karamogo dan para pendukungnya. Jika ingin melihat lebih banyak pembahasan menarik dari dunia sepak bola, ikuti berita terlengkapnya hanya di ShotsGoal!