Competitions
Keputusan kontroversial kembali mencoreng jalannya kompetisi Championship 2025/26. Ketua Komite Wasit PSSI, Yoshimi Ogawa, menyampaikan kekecewaan mendalam usai sebuah "gol haram" disahkan dalam pertandingan antara Garudayaksa melawan Bekasi City. Insiden tersebut terjadi di Stadion Pakansari, Kabupaten Bogor, pada 10 Januari 2026.
Gol yang dicetak Garudayaksa menjadi sorotan karena prosesnya dinilai tidak sesuai dengan prinsip fair play. Dalam tayangan ulang terlihat jelas bahwa bola pada situasi sepak pojok diletakkan jauh di luar garis busur, yang seharusnya menjadi batas eksekusi tendangan sudut. Pelanggaran prosedur ini semestinya membuat wasit menghentikan permainan.
Situasi semakin disesalkan karena kompetisi Championship telah menggunakan teknologi Video Assistant Referee (VAR). Namun, perangkat tersebut tidak dimanfaatkan untuk meninjau ulang kejadian, sehingga gol tetap disahkan. Bekasi City pun merasa dirugikan dan mempertanyakan konsistensi penerapan aturan di lapangan.
Yoshimi Ogawa tidak menutupi rasa kecewanya terhadap keputusan wasit yang dinilai keliru dan berdampak langsung pada hasil pertandingan. Ia mengakui masih adanya kesalahan fatal yang terjadi dalam kompetisi, sekaligus menyampaikan permohonan maaf kepada klub-klub yang dirugikan.
Menurut Ogawa, masalah utama bukan hanya kesalahan individu, melainkan perbedaan pemahaman dan interpretasi aturan di antara para pengadil lapangan. Hal inilah yang menjadi pekerjaan rumah besar bagi Komite Wasit PSSI agar standar kepemimpinan pertandingan bisa seragam di semua level kompetisi.
Ogawa menegaskan bahwa pihaknya tidak puas dengan kondisi perwasitan saat ini. Namun, ketidakpuasan tersebut harus diikuti dengan langkah konkret. Edukasi berkelanjutan dinilai menjadi kunci utama untuk memperbaiki kualitas wasit, terutama dalam pemanfaatan VAR dan pengambilan keputusan krusial.
Sebagai tindak lanjut, Komite Wasit PSSI mengambil langkah dengan mengistirahatkan sejumlah wasit yang melakukan kesalahan fatal. Ogawa menekankan bahwa kebijakan tersebut bukanlah hukuman, melainkan kesempatan bagi wasit untuk melakukan refleksi dan memperbaiki diri.
Ia menegaskan tanggung jawab Komite Wasit tidak hanya sebatas pembinaan teknis di lapangan, tetapi juga mencakup manajemen penugasan, pengelompokan kategori wasit, hingga pengelolaan lisensi. Semua aspek tersebut saling berkaitan dalam membangun sistem perwasitan yang profesional.
Ogawa menyadari pembenahan perwasitan di Indonesia bukan pekerjaan mudah dan tidak bisa selesai dalam waktu singkat. Meski begitu, ia optimistis dengan edukasi yang konsisten dan evaluasi menyeluruh, kualitas wasit nasional dapat meningkat sehingga keadilan dan integritas kompetisi tetap terjaga. Jika ingin melihat lebih banyak pembahasan terupdate dari dunia sepak bola, ikuti berita terlengkapnya hanya di ShotsGoal!