Competitions
Eksperimen kecil terjadi saat Inggris melawan Jepang pada 31 Maret lalu. Pelatih Thomas Tuchel menurunkan Kobbie Mainoo dan Elliot Anderson di lini tengah selama 70 menit. Pertandingan itu berakhir dengan kekalahan tipis 0-1. Duet ini menarik perhatian pengamat karena bukan sekadar uji coba satu pertandingan. Kombinasi mereka menimbulkan potensi baru, terutama bagi Manchester United yang dikabarkan ingin merekrut Anderson untuk menggantikan Casemiro. Jika transfer itu terjadi, laga melawan Jepang bisa menjadi gambaran awal bagaimana kemitraan mereka bekerja. Performa mereka di lini tengah menjadi sorotan karena bisa menentukan strategi United di musim depan.
Di beberapa momen, Anderson dan Mainoo menunjukkan chemistry yang cukup baik. Mainoo biasanya bermain di sisi kiri lini tengah dan sesekali maju saat tim kehilangan bola, sementara Anderson menempati sisi kanan dengan peran lebih stabil.
Ketika Inggris bertahan, Anderson dan Mainoo tampil kompak menekan lawan, menutup jalur serangan balik Jepang di babak pertama, menunjukkan koordinasi hebat yang berhasil merebut bola dan mengendalikan tempo pertandingan.
Anderson sering mengambil peran defensif penting, seperti melakukan tekel untuk menghentikan serangan lawan. Sementara Mainoo mengamankan bola dan menjadi penghubung antara lini belakang dan depan saat membangun serangan.
Kerja sama mereka terlihat saat Inggris menguasai bola, terutama melalui umpan pendek bersama Nico O'Reilly di bek kiri. Pola ini membentuk segitiga umpan yang rapi dan mengingatkan pada gaya permainan United di era Michael Carrick.
Masalah muncul karena Inggris terlalu mengandalkan serangan melalui tengah, dengan sekitar 80 persen upaya diarahkan ke area sentral, membuat Jepang mudah menutup ruang dan mengurangi efektivitas peluang mereka mencetak gol.
Pilihan Tuchel menempatkan Phil Foden sebagai false nine membuat Inggris kurang tajam di sepertiga akhir. Tanpa penyerang murni, mereka kehilangan penyelesaian akhir yang efektif. Anderson dan Mainoo solid secara defensif, tetapi kurang memiliki kreativitas atau insting gol.
Jika keduanya dipasangkan di Manchester United, koordinasi posisi harus diperhatikan. Kedua pemain cenderung bermain di sisi kiri lini tengah, dan tanpa pengaturan tepat, mereka bisa berdiri terlalu dekat sehingga memudahkan lawan menembus pertahanan. Simak terus berita sepak bola lainnya secara lengkap hanya di ShotsGoal!